Entahlah.. perasaanku atau memang benar-benar harus di cermati, anak-anakku makin besar, makin sulit dikendalikan. Terlalu kejam kalimat itu, tapi ini adalah suatu kenyataan TERUTAMA saat hatiku gersang. Gersang akan zikir, gersang akan kekuatiran thd petunjuk Allah. Anak-anakku akan semakin liar apabila, akupun liar terhadap karunia Allah. Kurang tilawah Quran, kurang meminta terhadap Zat yang Maha Tahu. Seakan pantauan akulah yang menentukan baik tidaknya anak-anakku melangkah, sebenarnya TIDAK.. tidak sama sekali, Aku orang tuanya hanya memantau, mengevaluasi dan mengarahkan. Pengarahan yang terbesar pun hanya Allah yang mengarahkan. Saat anak-anakku minta izin keluar, dengan tujuan yang baik, siapa yang dapat menjamin selama dalam perjalanan, atau dalam melakukan kegiatan dia (anakku) dilingkungin dengan hal yang baik, bisa saja temennya adalah teman yang jahat, atau nakal. Disitulah letak ketergantungan kita pada Allah, hanya Allah yang menjaga anakku. Aku type orang tua yang sangat protektif dengan anak-anak. Tapi menghadapi anak-anak yang sudah mulai gede, mereka harus mengenal dunia dengan nyata, dengan bijak dan dengan berani. Sehingga aku harus rela melepas dan mengizinkan mereka pergi bermain bersama teman-temannya , dimana aku tidak dapat memantau lagi seperti apa teman-temannya, seperti apa permainan yang mereka lakukan, apakah permainan itu aman. Hanya berharap kemurahan Allah dan KebesaraNnya, hingga anku terhindar dari segala petaka. Rabbanaa atinaa fiddunya hasanah wa fil aahirotu hasanah wakinaa azabannaar.
KOMUNIKASI Januari 9, 2010
Rani terus saja merajuk pada Tegar suaminya. Tas Etine Eigner keluaran terbaru, menggelayut di pelupuk mata Rani. Rayuannya pada Tegar belum berhasil, sehingga jurus-jurus mautpun di keluarkan demi mendapatkan tas idamannya itu. Panas kuping Tegar mendengar rengekan Rani. Tegar mencoba menjelaskan pada Rani kondisi keuangan yang sedang dialaminya, namun Rani tak mengindahkan penjelasannya. Sore ini seharusnya Tegar sudah di rumah, tapi membayangkan rengekan Rani minta dibelikan tas idamannya, membuat Tegar mengurungkan niatnya untuk pulang, dia memilih kongkow-kongkow dengan teman2 nya di kantor dari pada menghadapi istrinya dirumah.
Komunikasi menjadi hal yang sangat dalam mengatasi konflik rumah tangga. Kisah Rani dan Tegar menunjukkan betapa saling menghargai itu penting. Beruntung Rani bersuamikan Tegar, yang walaupun kesal dia memilih berlama-lama di kantor dengan teman2nya. Tapi yang mendasari sikap Tegar adalah keengganan menghadapi masalah, karna sang istri adalah seorang yang sulit untuk memahami kondisi suami. Saling menghargai dan berempati dengan pasangan adalah dua hal yang harus dimiliki dalam keharmonisan keluarga. Hal ini harus dibiasakan, sehingga akan mudah mengingatkan pasangannya saat kondisi seperti tegar dan Rani. Perselisihan dalam rumah tangga adalah hal yang lumraaaah. Namun, segera mencari solusi adalah parameter pemecah konflik dalam keluarga. Semakin cepat kita mencari solusi, maka semakin cepat pasangan tersebut berada pada titik setabil. So.. bangunlah keluarga dengan komunikasi yang produktif, yaitu komunikasi yang menghasilkan sikap-sikap positif sehingga akan berbuah indah saat badai menghampiri dalam kehidupan rumah tangga. Wallahu’alam bisowab.
Ups… jangan pada rebutan.. Januari 7, 2010
Tari terus saja menangis, walaupun Cheetos sudah ditangannya, rasanya dia sedih banget karna hampir saja dia kehilangan cheetos kesukaannya, Marta yang berselisih 2 thn lebih tua merebut dari tangannya saat dia lengah. Rebutan makanan, mainan bahkan rebutan dipeluk mama jadi hal yang biasa dirumah Irma. Irma pun heran anak-anaknya sulit sekali untuk berbagi. Padahal umur mereka 7th, 5th dan 2 thn. Mereka terlalu ego untuk berbagi.
Kadang kita para orang tua lupa mengajarkan anak-anak untuk berbagi. Karna keinginanan agar anak tidak rebutan, keinginana memenuhi kebutuhan dan keinginana anak-anak duduk manis dengan kesukaannya, hal ini membuat orang tua lupa ada hikmah dibalik rebutan yang sering terjadi jika kita dapat mengolahnya dngan bijak. Apa hikmah dibalik “rebutan” itu? Dengan “rebutan” makanan atau mainana sebenarnya anak-anak sedang melakukan pembelajaran akan arti kebersamaan. Apabila dapat disikapi dengan bijak dan orang tua mau repot2 sedikit, kita dapat megolah “rebutannya” anak2 menjadi ajang belajar untuk berbagi bersama-sama sehingga dapat menekan egonya anak yang memang umur-umur balita sedang dominan. Apabila yang jadi rebutan adalah mainan, ini dapat juga menjadi ajang pembelajaran tentang sikap “antri”. Walaupun kadang si adik belum memahami, tapi si kakak belajar megolah emosinya untuk mau mengalah pada si adik dan si adik juga melihat sikap mau mengalah si kakak, pada umumnya adik suka meniru sikap-sikap kakaknya. Misalnya rebutan untuk bermain PS, biasakan buat peraturan terlebih dahulu sebelum main PS dimulai, misalnya urutan dan waktu bermain, sudah menyelesaikan tugas-tugas sekolah. Banyak hikmah dibalik ini diantaranya ank-anak belajar anti, menghormati aturan. Alangkah manisnya anak2 kita apabila si kakak dapat mengayomi adik-adiknya, dapat berbagi makanan atau mainan pada adiknya.
Dialog Desember 30, 2009
Sungguh indah obrolan kami saat ngerujak di bawah pohon jambu ketika itu. Kalian anak2 ku baru berumur 8th, 7 th, 5 th dan si kecil 3 th. Kalian anak2 yg manis, saat si adik akan nyolek sambal yg pedas, aku cuma bilang “ka.. liat adik tuh” Si kakak dengan sigap menahan jemari siadik agar tidak memasukkan ke dalam mulutnya.
Kini, 8th kemudian. Kalian sudah besar2. Bahkan sudah ada “new comer” lagi diantara kita. Kalian kini berjumlah 5 anak. Waktu kebersamaan sangatlah mahal. Minggu pun diisi dngan acara demi acara. Ada yang ulang tahun teman, pramuka, berenang, kami pun orang tua tak kalah sibuk arisan, belanja bulanan dll. Sungguh kebersamaan kita menjadi sangt berharga.
Kebersamaan dengan anak2 tak hanya terukur dengan kualitas, tapi juga dengan kuantitas. Dialog, dengan dialog kita mengenali anak2 kita. Dialog dengan kata2, dengan bahasa tubuh atau dengan isyarat sekalipun. Waktu tak bisa dipungkiri. Dengan waktu lah kita mengenal anak2 dengan detail. Kalau kita tidak mengenalnya maka kita akan kehilangan Dia.
energi Oktober 16, 2009
Energi.. itu yang selalu kufikirkan. Energi yang menggebu-gebu pada anak-anakku sering kali membawa masalah yang akhirnya menimbulkan kemarahan2 dan akhirnya menghabiskan energi ku juga. Anak laki2 .. sedang tumbuh.. banyak makan.. banyak gerak.. dan itulah PR ku, mengarahkan energi yang full power agar out putnya positif, bermanfaat dan menambah kepintaran serta kedewasaannya. Televisi , main game adalah pelampiasan karna kurangnya kreatifitas orang tua dalam menghabiskan energi yang full power tadi. Anak-anak nonton TV and main game dengan manis.. sungguh ini adalah zona nyaman para orang tua.. namun apa akibat nya untuk anak2? Mandulnya kreatifitas, masalah dalam sosialisasi hingga over weigth bisa saja terjadi. Kita harus memutar otak, mematikan TV dan memperketat jam main game.. demi kematangan emotional anak2, so.. insyaallah setelah belajar maksimal.. dipadukan dengan pemanfaatan energi dengan yang positif, ditambah penanaman keagamaan yang baik.. anak2 akan siap menghadapi zaman yang semakin kompetitif.
Hello world! Oktober 16, 2009
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!



