Tari terus saja menangis, walaupun Cheetos sudah ditangannya, rasanya dia sedih banget karna hampir saja dia kehilangan cheetos kesukaannya, Marta yang berselisih 2 thn lebih tua merebut dari tangannya saat dia lengah. Rebutan makanan, mainan bahkan rebutan dipeluk mama jadi hal yang biasa dirumah Irma. Irma pun heran anak-anaknya sulit sekali untuk berbagi. Padahal umur mereka 7th, 5th dan 2 thn. Mereka terlalu ego untuk berbagi.
Kadang kita para orang tua lupa mengajarkan anak-anak untuk berbagi. Karna keinginanan agar anak tidak rebutan, keinginana memenuhi kebutuhan dan keinginana anak-anak duduk manis dengan kesukaannya, hal ini membuat orang tua lupa ada hikmah dibalik rebutan yang sering terjadi jika kita dapat mengolahnya dngan bijak. Apa hikmah dibalik “rebutan” itu? Dengan “rebutan” makanan atau mainana sebenarnya anak-anak sedang melakukan pembelajaran akan arti kebersamaan. Apabila dapat disikapi dengan bijak dan orang tua mau repot2 sedikit, kita dapat megolah “rebutannya” anak2 menjadi ajang belajar untuk berbagi bersama-sama sehingga dapat menekan egonya anak yang memang umur-umur balita sedang dominan. Apabila yang jadi rebutan adalah mainan, ini dapat juga menjadi ajang pembelajaran tentang sikap “antri”. Walaupun kadang si adik belum memahami, tapi si kakak belajar megolah emosinya untuk mau mengalah pada si adik dan si adik juga melihat sikap mau mengalah si kakak, pada umumnya adik suka meniru sikap-sikap kakaknya. Misalnya rebutan untuk bermain PS, biasakan buat peraturan terlebih dahulu sebelum main PS dimulai, misalnya urutan dan waktu bermain, sudah menyelesaikan tugas-tugas sekolah. Banyak hikmah dibalik ini diantaranya ank-anak belajar anti, menghormati aturan. Alangkah manisnya anak2 kita apabila si kakak dapat mengayomi adik-adiknya, dapat berbagi makanan atau mainan pada adiknya.
